Senin, 28 Desember 2015

MENUNGGUMU

Aku menunggumu disini
Di sore (lagi) yang mulai menepi
Diam tak ada yang perduli

Aku menunggumu disini
Lagi hujan yang menghampiri
Diriku yang duduk sendiri

Aku menunggumu disini
Tak ada yang menemani
Hanya berkawan sepi

Aku menunggumu disini
Menanti sebuah janji
Berharap kau tepati

Aku menunggumu disini
Membawa senyum yang pasi
Menyisakan lara di hati

Aku menunggumu disini
Dengan harapan yang tak pasti
Membawa sebuah mimpi

Aku menunggumu disini
Hingga tiba esok hari
Aku akan melangkah pergi
jika dirimu tak pernah ku dapati

* foto ini di ambil dari beberapa tahun yang lalu

ARAH MATA SENJA

Tak perlu tanya kemana arah senja
Kau lihat saja kemana mata hari bermuara
Pasti kau akan menemukannya 

Tak perlu resah jika kau tak menemukannya disini
Mungkin dia sedang bersembunyi
Karna dia tak akan benar-benar pergi 

Jika benar tak kau dapati
Itu tandanya kau arus berhenti
Mungkin ia tak mau kau temui 

Kadang kita harus bisa melepaskan
Juga harus merelakan
Pun tentang harapan-harapan 

Simpan semua harapan mu dalam hati
Putar kakimu, balikkan badanmu
Cari arah yang lainnya 
sesungguhnya banyak arah untuk menemukannya 

Selamat mencoba!




MENUNGGU SENJA

Senja tak akan pernah datang pagi hari
Tak juga siang hari
Ia akan datang kala matahari menghilang
Mengantar surya di persimpangan

Tersenyum lebar
Tiba-tiba menghilang
Tak ada kabar
Juga tak kunjung datang

Kemana kau senjaku?

Senjaku hilang dibawa kutukan langit yang mulai menghitam
Awan mengumpal membawa sekabut pekat diatas sana
Bersibeku dengan senja, mereka tak saling menyapa

Semoga kau baik-baik saja

*gambar dari minjem

MEMBUNGKUS KENANGAN

Sore yang dingin di musim kemarau, tak ada hujan tapi ada kegaduhan di langit sana, lampu padam. aku terdampar di kamar yang hampa cahaya. Hay, apa kabar kamu?

Akhir-akhir ini aku gelisah ketika memikirkanmu. Seneng, kagum, bahagia, kecewa, benci, marah dan rindu. Rasanya ingin mengembalikan diriku sepertu dulu, sebelum mengenal dirimu. Ralat; sebelum kau masuk dalam hidupku. Karna sejak mengenalmu hidupku baik-baik saja dan ketika kau menyusup di antara ruang hatiku, kau memberi nuansa yang berbeda. Entahlah! aku tak tahu mengapa aku jadi begini, hatiku terasa begetar saat menyebut namamu. Kau selalu tawarkanku dengan segudang harapan tanpa kepastian.

Aku sedang berusaha menguatkan hati, menyiapkan diri menghadapi situasi terberatku. Kau tau itu? ya, apalagi kalu bukan melihatmu bersanding dengannya. Maka dari itu aku perlu melatih hati ku untuk terbiasa melihatmu dengan dia

Lagi apa kau? Aku membayangkan kau sedang duduk bersamanya di pelaminan. Lihat, aku melambaikan tangan, Kau lihat? Aku menepati janjiku bukan. Apakah saat ini kau tengah tersenyum lebar dengan mata berbinar? Maafkan aku tak bisa menyalamimu dan berucap ‘selamat’. Meski aku ingin sekali, tetapi belum untuk saat ini. Aku akan selipkan salamku lewat doa dan semoga kau bahagia dengannya. Jangan lupa doakanlah juga aku.

Okay.. aku pergi, Kini saatnya aku membungkus sayap-sayap itu dan mengantinya dengan cerita baru.

Wanita Arang

Ibarat sebuah arang, kau bagaikan sesuatu yang usang dan terbuang.

Maukah kau ku certakan tentang wanita arang?
Tentang wanita yang kehilangan arah, ketika berjalan membawa hati yang patah
Pun tentang harapan yang tak kesampaian, saat janji yang tak pernah tertepati
Juga tentang rindu yang tak terbalaskan


Ini dia wanita arang (*.*) wanita dengan segala kekurangan, wanita yang kehilngan harapan juga masa depan, hidup sebatang karang.

"tuhan kapan hidupku akan di putar?" katanya yang lugu. bibir nya kelu saat mengucap doa.

matanya tak henti memandang langit--memerjam sesekali. berusaha mengerakkan bibirnya yang kaku-- senyumnya hadir "terimakasih tuhan. tak ada harapan yg dapat ku gantungkan kecuali pada engkau.kapan2 aku kirim doa lagi ya?"

saat bulan menggantung seperempat .
*madiun, 25 menuju 26 desember 2015 akhir

Minggu, 26 April 2015

surat untuk senja

kepada senja yang selalu memberi warna

warna mu yang tak pernah pudar menyinari
sinarmu yang tak pernah berhenti terpancar
pancaran mu yang tak pernah sayang untuk di bagi
dan keindahan yang selalu kau torehkan

terimakasih telah bersama kami
mengahibiskan hari-hari dengan segala keceriaan
memola hidup dengan bingkai penuh misteri
membuat teka teki yang sulit terpecahkan

keelokan yang kau suguhkan
membuat semua mata ingin memperhatikanmu
mencercamu dengan berbagai pertanyaan
menantimu dengan sebuah kepastian

kepada siapa pancaran itu tertuju???

*masih tentang senja kenangan 25-4-2015 - #teaz

Sabtu, 04 April 2015

PUISI

Menatap jauh kearah sebrang
Kearah sang surya menghilang
Menghilang dengan semua kenangan
Karna senja slalu memberikan kehangatan
Senja tak akan pernah pergi,
Dia akan kembali esok hari
Senja tak akan pernah mengingkari,
Tapi juga tak selalu pasti
Keindahannua yg mempesona
Membuat mu lupa akan fatamorgana
Penawanan yang luar biasa
Seakan kau terbius olehnya
Keganduhan hati yang selalu menemani. Jadi tetap disini atau pergi ??

*berteman dengan senja - ‪#‎teaz‬

PAK POS Part 2

Melawan hati yangberkabut

Aku masih terdiamdi balik kaca rias kamar ku, kaca yang berukuran 4x5 meter ini seakan sesakoleh bayangan orang-orang itu. Bapak, ibu, mas mahmud dan sesok buram. Ternyatacerita ku tentang mas mahmud belum usai...

“hemmmm” aku membebaskan nafas sebentar yang lama tertahan oleh besanya rasa yang membebaniku.
Aku tak ingin mengingat apa yang telah terjadi pada ku akhir-akhir ini, tapi kenapa otak ini selalu ingin mengulas tanpa ada perintah, seolah ingin menginggatkan ku bahwa ini lah takdir yang harus ku terima.
Seminggu setelah pertemuan ku dengan mas mahmud di pasar itu ada undangan yang mampir kerumah, Aku punhanya membaca sekilas, yang jelas ada namanya tertera disana. Sudah ku duga pasti undangan itu akan datang pada waktu yang telah ditentukan.

Kami yang berbahagia~ Febriana istiqomah & mahmud budiawan ~

Menghadiri undangan adalah suatu kewajiban, tapi kalu menghadiri undangan yang satu ini menjadi suatu kesengsaraan bagi ku. maka dari itu aku menyiapkan hati, melapangkan dada dengan segala situasi yang akan terjadi.
Waktu itu aku datang bersama bapak dan ibu, dengan wajah sok riang ku berharap bapak tidak tau tentang perasaan yang selama ini aku pendam. sepasang pengantin memakai baju warna senada, tamu yang lalu lalang entah mencari apa, makanan yang berhamburan di setiap sudut ruangan, sedikit yang dapat ku ingat dari acara resepsi pernikahan itu hanya satu yang tak pernah aku lupakan dimana aku bertemu dengan seseorang yang mengantarkan ku pada kericuhan hari ini.

Kringg ... hand phone kuberbunyi tanda sms masuk, terlihat “pesan masuk dari bang rasyit” aku mengabaikan pesan itu.

bang rasyit adalah orang yang ku temui di acara pernikahan mas mahmud waktu itu, dimana pertemuan yang tak penah ku inginkan sama sekali.
saat itu ketika akudan keluarga sedang menyantap makanan yang disajikan, tiba-tiba kedua pengantin datang dengan dalih mau menjamu tamu.

“terimakasih sudah datang” sapa mas mahmud, yang terlihat berbahagia
“selamat nak, akhirnya kau menikah” balas ibu sok ramah, tanpa memperdulikan perasaan anaknya ini.
“senang sekali rasanya bisa lihat kau menikah. semoga saja bapak juga bisa segera menikahkan anak bapak ya” tambah bapak, diiringi candaan yang menyudutkan ku
“iya pak, amin”ujarnya. sambil memanggil seseorang dengan menggunakan isyarat, tak lama kemudian orang itu datang.
“emmmm, perkenalkan rasyit teman saya sekaligus sepupu istri saya” kata mas mahmud memperkenalkan orang itu, seorang yang sepertinya berusia sepantaran dengan mas mahmud, berbadan agak besar dan memiliki tinggi sebahu mas mahmud jangan di kata pendek karna tinggi mas mahmud saja hampir sama dengan pintu rumahku.

Dia tersenyum (tanda menyapa), dibarengi ritual perkenalan seperti biasanya.
“dia ini juga sedang cari pendamping. lulusan teknik sipil, dia juga sudah bekerja, soal agama tidak diragukan lagi insyaalloh bisa jadi imam yang baik, karna lulusan dari pondok al-islam bogor” cerita mas mahmud,
Perasaan aneh mulai muncul, sepetinya nasip buruk akan menimpa ku.
“wahh hebat sekali ya, semoga kelak saya mendapatkan menantu yang seperti itu!” kata bapak, sepertinya perasaan aneh ku terbukti dan aku belum mengeluarkan reaksi
“wah bagus lah pak, kemarin saya janji sama ranti kalu saya mau mencarikan calon buat dia, bagaimana kalau rasyit saja pak?” tanyanya sambil menggoda
 “kalau bapak sih setuju-setuju saja, sangatsetuju malah. Tinggal ranti yang menentukan” jawab bapak
Aku hanya tersenyum kecut, sepertinya akan ada skenariobesar yang akan saya jalani.
“lah bagaimanadenganmu nak rasyit apa kau mau dengan ranti, yang seperti itu?” tanya ibu seolah-olah aku ini orang yang terasingkan
Dia pun tak menjawab, hanya tersenyum tanpa maksud. Aku bisa menangkap senyum itu sepetinya dia mengiyakan tapi tidak juga, ah entah lah saya tidak bisa membaca pikiran orang aku kan bukan ki joko bodo.
“tenang bu. Rasyit sudah saya beritahu kalu ranti ini orangnya baik asyik juga, saya yakin ranti adalah pilihan yang tepat untuk dia” jawabnya.
“iya bu, mungkin kami perlu pengenalan dahulu, nanti cocok atau tidaknya biar kami yang menentukan” katanya membuka suara.
Setelah pertemuan itu, bang rasyit sering menghubungi ku tapi jarang sekali aku perdulikan sesekali aku membalasnya demi untuk menghargai.

Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat apalagi saat bang rasyit mau melamarku, seakan dunia ini tak pernah berpihak padaku ditambah persetujuan dari ibu bapak yang semakin menghancurkan perasaanku. aku selalu berusaha menolaknya tapi mulut ini terasa berat ketika logika dan hati masih saja berseteru suara pun tak berani menunjukkan kemerduannya.

Aku selalu berusaha mendamaikan logika dan hati supaya bisa bersatu, tapi tetap saja tambah jadi mereka seolah menyerangku dengan berbagai penawaran. Oh tuhan adakah obat penawar untuk ini? Aku berkali-kali meminta pertolongan tuhan, tiap malam aku sholat meminta petunjukNya tapi apa, aku tak bisa menangkap apa-apa.
“Rengg....” suara gemuruh di luar mulai terdengar, sepertinya rombongan bang rasyit sudah datang. Waktuku tak lama lagi aku akan segera mengambil keputusan besar dalam hidup ku, aku mengambil bingkai foto yang terpajang di dekat meja rias ku. Foto yang diambil 20 tahun silam saat usia ku 2 tahun bersama ibu dan bapak.

Bapak ibu usia mukini mulai senja, tubuhmu tak sekokoh dulu, warna rambutmu mulai memudar, tapiaku yakin rasa sayang mu tak akan pernah berubah dari dulu hingga aku seperti ini. Aku yakin orang tua manapun tak pernah mau menyengsarakan anaknya. Sepertihalnya dengan bapak dan ibu pasti menginginkan yang terbaik buat ku. Bapak ibu sangat mengingikan bang rasyit menjadi menantunya, menjadi suamiku, menjadi pendampingku hingga akhir kelak, menjadi ayah dari anak-anak ku, dan menjadi kakek dari cucu-cucuku. Bukan kah ridho alloh itu bersama ridho orang tua? Selama keridhoan orang tua itu masih sejalan dengan peintah Alloh dan RosulNya.

“hemmmmm” aku kembali menggela nafas panjang. Tapi bagaimana dengan perasaan ini, taksedikitpun aku mencintai bang rasyit mana bisa kita hidup dengan orang yang sama sekali tak inginkan, tapi kata ibu cinta itu bisa di bangun setelah menikah sama hal nya ibu dan bapak dulu ketika di jodohkan sama kakek, malah ibu dan bapak sama sekali belum pernah bertatap muka sebelumnya.

Aggghhhhhhhhhhhserasa perasaan ini sangat mengganggu ku
“nak, tamunya sudah menunggu” teriak ibu dari balik pintu, aku tersadar kurang lebih setengah jam yang lalu rombongan bang rasyit tiba. Dan Aku harus segera bergabung dengan keluargaku.
“ bagaimana nak sudah siap?” tanya ibu, sambil membuka pintu.
Aku mengganggukkan kepala, kami menuju ruang tamu yang telah sesak dengan kerumunan orang. Terlihat bang rasyit didampingi ayahnya, tak ketinggalan mas mahmud dan mb anayang turut hadir mengantar bang rasyit.

Hari ini adalah deadline keputusan saya atas lamaran bang rasyid minggu lalu, bang rasyit telah berbaik hati memberi waktu untuk ku berpikir panjang tentang hal ini, karna menyangkut hidup kami kedepan, semua orang menginginkan menikah satu kali sama hal nya dengan diriku, maka dari itu aku tidak bisa memutuskan ini sesaat.
Acara telah dimulai, serangkaian prosesi sambut menyambut telah di lewati satu persatu. Kini giliran aku yang harus memberikan jawaban atas permintaan bang rasyit, serasa jantung ini berdebar lebih cepat dari biasanya. “dek iranty mariana bersedia kah dek iranty menjadi istri dan membangun rumah tangga bersama saya, menjadi ibu bagi anak-anak saya kelak?” tawarnya
Aku memandang orang-orang sekitar, sepertinya tidak ada yang mendukung ku untuk berkata tidak, wajah mereka terlihat tegang menunggu apa yang keluar dari mulut ku, tapi mulit ini seperti tertahan untuk mengungkapkan sesuatu.

Hemmmmmm aku menarik nafas panjang Bismillah.... doa ku dalam hati
“iii..... iya” jawabku, bersamaan dengan jatuhnya permata dari mata ku.
“alhamdulillah “seruan dari orang-orang yang mengikuti rangkaian acara ini.
Menikah itu bukanhanya jodoh yang di pilih tapi juga kesepakatan, ya kesepakatan antara kamu danaku. Kesepakatan kamu mau menikahi aku dan aku mau kamu nikahi. Maka dari itu aku memantapkan diriku dengan hal yang lebih besar dengan resiko yang tidak kecil tapi memiliki hikmah yang luar biasa.
Entah apa yang bisa merubah pikiran ku tentang ini semua, aku tak mau mengecewakan orang-orang yang menyayangiku. Dan aku berharap dengan iringan doa dari mereka menjadikan hidupku lebih baik. Bismillah aku kan menjalani takdir ini bersama mu ya bersama Rasyit abdulloh.

Minggu, 22 Maret 2015

PAK POS Part 1


Kabut senja yang fana
     “Nak ngapain kau melamun sendirian disana!” teriakan yang tak asing bagiku, ya suaramerdu ibu memecahkan lamunan ku. orang yang memiliki suara paling merdu danmenggelegar di kampung ini, bagai mana tidak pak samsul saja tukang sayur dikampung ini selalu tidak bisa berkutik acap kali ibu memanggilnya, bukan karnaibu istimewa bagi pak samsul tapi suara ibu yang tak ada duanya.
      “apa yang kau pikirkan? Tukangpos itu?” tanyanya, dan tak ada niat untukku menjawab, bukan karena aku tak maumenjawab tapi suara itu terus berkumandang dan aku tak kuasa untuk memotongnya.
“sudahlah lupakan saja tukangpos itu, kau bisa dapatkan yang lebih dari dia, kau ingatkan anak juragan pupuklanganan bapak mu itu dengar-dengar dia baru menyelesaikan sekolahnya di kota,atau yanto anak peternak sapi yang sukses itu, ada lagi temen SD mu yangsekarang jadi guru itu, kamu tinggal pilihh...... “ hingga suara itu takterdengar lagi entah kemana.
Aku menarik nafaspanjang, teringgat kata TUKANG POS yang di singgung ibu tadi, ya tukang posyang belum lama ini aku kenal yang sering kali mengantar surat kerumah.
          
Pagi tadi aku bertemu dengannyadi pasar saat mengantar ibu belanja perlengkapan dapur, ada sedikit yangberbeda dari dirinya pagi tadi, mungkin karena dia tidak mengenakan seragamdinas kebanggannya itu, kaos berkerah dengan celana semi jeans biru ditambahtopi hitam yang sanggat menawan, “oh,, tuhan kenapa engkau baru menampakkanmakhluk ini” kata ku dalam hati,  samapaiaku tak sadar sosok di depan ku ini adalah orang yang setiap minggu kerumah.
   “hay ranti, kauhendak kepasar juga rupanya?” katanya membuka percakapan. Aku hanya tersenyum takmenjawab “bukannya kau yang sering mengantar surat kerumah itu anak muda? Cariapa kau kepasar?’’ tanya ibu.
   “iya bu hari, sayayang sering kerumah, hari ini saya libur hendak menyelesaikan urusan pernikahansaya” serentak nafas ini seperti tertahan              “Menikah??” aku bertanya tanya takpercaya
  “lah sudah maumenikah kau? Ini kah calon mu, cantik sekali!!” tanya ibu sembari memujiberlebihan, lihat saja masih cantikan aku dari pada dia.
  “iya bu ini calonsaya, perkenalkan ana namanya” perempuan berhijab panjang itu menjulurkantangannya pada ibu dan bergantian pada ku
  “ini bu hari, yangpunya perkebunan kopi dan cengkeh di desa tanjung dan ini ranti anak bu hari yangselalu menjamuku dengan topik diskusi yang   menarik dan secangkir kopi setiapkali aku mengantar surat ” bebernya
  “hay ranti, salamkenal” katanya sok ramah.
       
Benar sekali katamas mahmud nama asli tukang pos itu, kami sering berdiskusi tentang banyak hal,mulai dari agama, bangsa, sistem pemerintahan dan yang terakhir kita membahaspekerjaan yang berujung pada pernikahan.
      
  Entah bagaimanaceritanya aku bisa mengenal mas mahmud, menurut ku dia itu tukang pos yangsangat aneh saat awal bertemu, dia beda dari kebanyakan tukang pos yang pernahaku temui,  Saat itu aku masihmemanggilnya dengan sebutan pak pos. Nada protes pun serentak keluar “pak poskau bilang? Apa aku ini sudah kelihatan tua sekali, sampai-sampai kau memanggilku pak, macam mana kau ini tukang bakso yang beranak tujuh aja masih di panggilabang, abang tukang bakso...”  saat ituaku ketawa lepas saat mendengar dia menyanyi abang tukang bakso fersi dia.
  “lalu harus akupanggil apa kau?” tanyaku
  “kau panggil sajaaku Mr. Eh jangan uda saja, jangan juga. Ya sudah lah kau panggil saja aku mas,ya mas mahmud”  dari situ lah awalperkenalan ku dengan orang aneh, lucu, tapi seru itu terjalin.

Setelah pertemuanawal itu mas mahmud sering berkunjung kerumah, setidaknya satu minggu sekaliuntuk mengantar surat, surat tagihan bapak, promo produk-produk baru, surat-suratpemberitahuan lowongan pekerjaan, surat lowongan panggilan kerja, atau suratpenolakan kerja untukku. Ya Kurang lebih sudah 3 bulan aku lulus kuliah, danmenetap dirumah sambil menunggu pekerjaan yang mau berjodoh pada ku. akubersyukur sekali karna surat-surat itu aku di pertemukan dengan mas mahmud
  “asslamualaikum”salamnya, sambil mengetuk pintu. Kebiasaan wajib yang dilakukan mas mahmud saatmengantar surat, tak seperti tukang pos lainnya yang hanya mengandalkanteriakan. Mas mahmud sangat sopan dan santun.
  “iya mas, marimasuk” kata ku sambil mempersilahkan masuk,
  “ini surat kau,hemmm masih saja kau mengirimkan lamaran-lamaran itu? Kenapa kau tak meneruskanusaha bapak kau saja, kau ini kan seorang insinyur pertanian, sudah tepat kahberada disini membantu bapak kau, kau juga bisa membangun rumah tangga disinibersama suami dan anak-anakmu kelak” nasihat yang sudah berapa kali ia lontarkan,
  “menikah?” tanyaku 
  “ia menikah”tegasnya,
 “ tapi sama siapa?Aku belum punya angan apalagi calon, akan kah dia turun dari langit? Tidakmungkin kan??” tanyaku balik, diikuti nada ketawa darinya
 “Ah maslah itu,tenang saja bapak kau kan terkenal di kampung ini, pasti banyak kenalan. Ataukalau kau mau aku bisa carikan untukmu...... oh ya ranty, mohon maaf yasepertinya saya tidak bisa berlama-lama disini, ada urusan yang harus segerasaya selesaikan” ujarnya sedikit berburu-buru. Tanpa pamitan khusus dialangsung bergegas
   “lah enggak sholatdulu? Sebentar lagi udah masuk waktu dzhur?” kataku menahan, berharap dia maumendengarkan kataku
  “ah tidak nanti saya sholat disana saja, salam buat bapak ibuk” tolaknya sambilmenyalakan mesin motornya.
 Aneh sekali mas mahmud waktu itu, ya waktuterakhir kali dia mengantar surat kerumah lebih tepatnya 2 minggu yang lalu.
Tak sepertibiasanya, mas mahmud yang selalu menyempatkan singgah sebentar untuk menungguadzn dzuhur kini tidak lagi, raut muka nya yang tidak bisa ditebak dan tanpaekspresi.
  “ada apasebenarnya?” aku pun jadi bertanya-tanya waktu itu

Mas mahmud tukang posyang membuat aku gila, yang membuat aku terus memikirkannya, senyum-senyumsendiri ketika membayangkannya, dan selalu menyisipkan namanya dalam doaku. Akutak tahu rasa apa yang hinggap di dalam tubuh ku ini, rasa yang mengganggu kuakhir-akhir ini semenjak aku mengenalnya.
Tapi kini rasa ituberbeda entah menjadi apa rasanya tak seenak dahulu, setelah aku mengetahuijawaban atas pertanyaan ku dua minggu yang lalu. Ya jawaban itu aku dapat pagitadi saat aku bertemu dengan mas mahmud. Mas mahmud akan segera menikah, menikahdengan wanita itu, wanita yang solehah kelihatannya

“nak belum selesaikah kau melamun? Sudah magrib itu apa kau tak dengar? Sana ambil air wudlu,trus kita sholat jamaah di masjid” lagi-lagi suara ibu berhasil memecahkankonsentrasiku. Dan terpaksa saya harus mengakhiri lamunan ini. Entah aku bisabertemu dengannya lagi apa tidak yang pasti namanya pernah singgah dalam hatikudan menjadi kenangan yang bisa di ceritakan untuk anak cucu ku kelak.