Menulis adalah cara menyampaikan
rinduku. Aku sedang merindu, maka dari itu aku menulis. Kuharap kau tahu kalau
aku sedang merindumu.
Cukuplah disitu, tanpa perlu
melakukan sesuatu. Aku sudah tahu apa yang ada di fikiranmu. Tak perlu
kehadianmu untuk mengobati rinduku, yang aku perlu cuma ketegasan dan
kerendahan hatiku untuk menerima semuanya. Kalau memang kita tak lagi sama.
salam untuk rindu dari sini
Entah mengapa, saat menulis ini aku
ingat saat pertama pertemuan itu terjadi. Aku ingat betul detail kalimat yang
kau ucapkan sehangat desah angin di depan bara api. Aku tak melupakan peristiwa
yang terjadi diantara kita, dan.... aku selalu ingat bagaimana caramu dan
caraku untuk menikmati detik yang berganti menjadi menit. Bagaimana usahaku dan
usahamu untuk menghargai menit yang berganti menjadi jam. Nyatanya, aku belum
benar-banar membuang semua tentangmu dari otakku. (Dwitasari—jalan pulang untuk
rindu)
Kamu mulai menceritakan apa saja
yang ingin kau capai. Kau membagi rahasia-rahasia dan impianmu. Kamu ingin
datang ke suatu tempat terjauh. Aku mendengarkan, mengamini semua mimpimu.
Lalu, dalam hati pelan-pelan kurapalkan doa, semoga suatu saat nanti semua
mimpimu terwujud bersamaku. Begitu indah dan tak pernah kubayangkan semua akan
selesai sudah. Kamu yang mengajariku cara rindu tanpa pernah paham cara
pelukan, kamu orang yang mengajariku cara cemburu tanpa pernah mampu
mengutarakan. (boy candra—senja,hujan dan cerita yang telah usai)
kisah kita, bisa dibilang, tak
terpilih masuk buku kenangan, jadi kita tak perlu merayakannya dalam reuni apa
pun. bukan karena apa-apa, hanya karena judul buku itu adalah
"cinta", bukan "luka". Berjalanlah ke depan sana. jika ada
luka yang juga tersimpan di hatimu, silamkanlah, seperti aku yang berusaha
keras menyilamkan luka besar dalam seluruh hatiku. atau tambahkan untuk
menggenapkan cintamu untuk dia. dia sungguh mencintaimu, aku-kau-dia juga tahu
itu. Sampaikan maafku kepadanya, jika suatu ketika dia mendapati bahwa lagu itu
adalah kisah kita. Semoga kita tidak bertemu pada suatu hari.
(widyawati—penjual kenangan)
ah, aku terlalu banyak bicara tentang diriku sendiri,
rupanya. tapi, entah kenapa, saat keping kenangan tentangmu kurekatkan satu per
satu, ada air mata bersirebut jatuh—mungkin bukan karena kesedihan, hanya karena aku
merindumu. terkadang, air mata jatuh bukan melulu karena kesedihan bukan, juga
karena ada kebahagiaan yang menguar.
ah, sungguh, aku ingin tahu, apa kabarmu di sana? semoga, selalu
bahagia yang kau rasa. :) (widyawati—aku masih mencintaimu, tentu saja)
Aku tak sedang
menginginkanmu lagi, tidak juga tega aku merebut kamu dari seseorang yang
bersamamu saat ini. Aku hanya merindu, perasaan yang entah darimana asalnya,
tetapi sangat menggebu. Hanya itu saja. Aku tahu ini keterlaluan, kamu boleh
mengabaikan, aku hanya sekedar ingin mengutarakan. Aku paham, yang telah hilang
sudah selayaknya hanya menjadi kenangan. Bukan sesuatu yang seharusnya diajak
kembali pulang. Namun, jujur saja aku rindu semua perihal kamu. (boy candra—senja,hujan
dan cerita yang telah usai)
Mungki ini kerinduanku yang paling
ujung di antara batas kemampuanku untuk menolaknya. Aku tak tahu apakah rasa
ini akan saring menghampiriku atau tidak, yang pasti aku cukup tahu dengan
rasaku saat ini, juga rasamu dan kisah kita. :) salam hangat sepeti yang kau ucapkan
dulu, berikan juga salamku untuknya semoga sampai sehangat pelukanmu padanya.

