Jumat, 13 Mei 2016

BUKAN TUTORIAL HIJAB


                Menulis adalah cara menyampaikan rinduku. Aku sedang merindu, maka dari itu aku menulis. Kuharap kau tahu kalau aku sedang merindumu.

            Cukuplah disitu, tanpa perlu melakukan sesuatu. Aku sudah tahu apa yang ada di fikiranmu. Tak perlu kehadianmu untuk mengobati rinduku, yang aku perlu cuma ketegasan dan kerendahan hatiku untuk menerima semuanya. Kalau memang kita tak lagi sama.

 salam untuk rindu dari sini



            Entah mengapa, saat menulis ini aku ingat saat pertama pertemuan itu terjadi. Aku ingat betul detail kalimat yang kau ucapkan sehangat desah angin di depan bara api. Aku tak melupakan peristiwa yang terjadi diantara kita, dan.... aku selalu ingat bagaimana caramu dan caraku untuk menikmati detik yang berganti menjadi menit. Bagaimana usahaku dan usahamu untuk menghargai menit yang berganti menjadi jam. Nyatanya, aku belum benar-banar membuang semua tentangmu dari otakku. (Dwitasari—jalan pulang untuk rindu)

           Kamu mulai menceritakan apa saja yang ingin kau capai. Kau membagi rahasia-rahasia dan impianmu. Kamu ingin datang ke suatu tempat terjauh. Aku mendengarkan, mengamini semua mimpimu. Lalu, dalam hati pelan-pelan kurapalkan doa, semoga suatu saat nanti semua mimpimu terwujud bersamaku. Begitu indah dan tak pernah kubayangkan semua akan selesai sudah. Kamu yang mengajariku cara rindu tanpa pernah paham cara pelukan, kamu orang yang mengajariku cara cemburu tanpa pernah mampu mengutarakan. (boy candra—senja,hujan dan cerita yang telah usai)

            kisah kita, bisa dibilang, tak terpilih masuk buku kenangan, jadi kita tak perlu merayakannya dalam reuni apa pun. bukan karena apa-apa, hanya karena judul buku itu adalah "cinta", bukan "luka". Berjalanlah ke depan sana. jika ada luka yang juga tersimpan di hatimu, silamkanlah, seperti aku yang berusaha keras menyilamkan luka besar dalam seluruh hatiku. atau tambahkan untuk menggenapkan cintamu untuk dia. dia sungguh mencintaimu, aku-kau-dia juga tahu itu. Sampaikan maafku kepadanya, jika suatu ketika dia mendapati bahwa lagu itu adalah kisah kita. Semoga kita tidak bertemu pada suatu hari. (widyawati—penjual kenangan)

ah, aku terlalu banyak bicara tentang diriku sendiri, rupanya. tapi, entah kenapa, saat keping kenangan tentangmu kurekatkan satu per satu, ada air mata bersirebut jatuh—mungkin  bukan karena kesedihan, hanya karena aku merindumu. terkadang, air mata jatuh bukan melulu karena kesedihan bukan, juga karena ada kebahagiaan yang menguar. 
ah, sungguh, aku ingin tahu, apa kabarmu di sana? semoga, selalu bahagia yang kau rasa. :) (widyawati—aku masih mencintaimu, tentu saja)

Aku tak sedang menginginkanmu lagi, tidak juga tega aku merebut kamu dari seseorang yang bersamamu saat ini. Aku hanya merindu, perasaan yang entah darimana asalnya, tetapi sangat menggebu. Hanya itu saja. Aku tahu ini keterlaluan, kamu boleh mengabaikan, aku hanya sekedar ingin mengutarakan. Aku paham, yang telah hilang sudah selayaknya hanya menjadi kenangan. Bukan sesuatu yang seharusnya diajak kembali pulang. Namun, jujur saja aku rindu semua perihal kamu. (boy candra—senja,hujan dan cerita yang telah usai)
           
            Mungki ini kerinduanku yang paling ujung di antara batas kemampuanku untuk menolaknya. Aku tak tahu apakah rasa ini akan saring menghampiriku atau tidak, yang pasti aku cukup tahu dengan rasaku saat ini, juga rasamu dan kisah kita. :) salam hangat sepeti yang kau ucapkan dulu, berikan juga salamku untuknya semoga sampai sehangat pelukanmu padanya.