Minggu, 22 Maret 2015

PAK POS Part 1


Kabut senja yang fana
     “Nak ngapain kau melamun sendirian disana!” teriakan yang tak asing bagiku, ya suaramerdu ibu memecahkan lamunan ku. orang yang memiliki suara paling merdu danmenggelegar di kampung ini, bagai mana tidak pak samsul saja tukang sayur dikampung ini selalu tidak bisa berkutik acap kali ibu memanggilnya, bukan karnaibu istimewa bagi pak samsul tapi suara ibu yang tak ada duanya.
      “apa yang kau pikirkan? Tukangpos itu?” tanyanya, dan tak ada niat untukku menjawab, bukan karena aku tak maumenjawab tapi suara itu terus berkumandang dan aku tak kuasa untuk memotongnya.
“sudahlah lupakan saja tukangpos itu, kau bisa dapatkan yang lebih dari dia, kau ingatkan anak juragan pupuklanganan bapak mu itu dengar-dengar dia baru menyelesaikan sekolahnya di kota,atau yanto anak peternak sapi yang sukses itu, ada lagi temen SD mu yangsekarang jadi guru itu, kamu tinggal pilihh...... “ hingga suara itu takterdengar lagi entah kemana.
Aku menarik nafaspanjang, teringgat kata TUKANG POS yang di singgung ibu tadi, ya tukang posyang belum lama ini aku kenal yang sering kali mengantar surat kerumah.
          
Pagi tadi aku bertemu dengannyadi pasar saat mengantar ibu belanja perlengkapan dapur, ada sedikit yangberbeda dari dirinya pagi tadi, mungkin karena dia tidak mengenakan seragamdinas kebanggannya itu, kaos berkerah dengan celana semi jeans biru ditambahtopi hitam yang sanggat menawan, “oh,, tuhan kenapa engkau baru menampakkanmakhluk ini” kata ku dalam hati,  samapaiaku tak sadar sosok di depan ku ini adalah orang yang setiap minggu kerumah.
   “hay ranti, kauhendak kepasar juga rupanya?” katanya membuka percakapan. Aku hanya tersenyum takmenjawab “bukannya kau yang sering mengantar surat kerumah itu anak muda? Cariapa kau kepasar?’’ tanya ibu.
   “iya bu hari, sayayang sering kerumah, hari ini saya libur hendak menyelesaikan urusan pernikahansaya” serentak nafas ini seperti tertahan              “Menikah??” aku bertanya tanya takpercaya
  “lah sudah maumenikah kau? Ini kah calon mu, cantik sekali!!” tanya ibu sembari memujiberlebihan, lihat saja masih cantikan aku dari pada dia.
  “iya bu ini calonsaya, perkenalkan ana namanya” perempuan berhijab panjang itu menjulurkantangannya pada ibu dan bergantian pada ku
  “ini bu hari, yangpunya perkebunan kopi dan cengkeh di desa tanjung dan ini ranti anak bu hari yangselalu menjamuku dengan topik diskusi yang   menarik dan secangkir kopi setiapkali aku mengantar surat ” bebernya
  “hay ranti, salamkenal” katanya sok ramah.
       
Benar sekali katamas mahmud nama asli tukang pos itu, kami sering berdiskusi tentang banyak hal,mulai dari agama, bangsa, sistem pemerintahan dan yang terakhir kita membahaspekerjaan yang berujung pada pernikahan.
      
  Entah bagaimanaceritanya aku bisa mengenal mas mahmud, menurut ku dia itu tukang pos yangsangat aneh saat awal bertemu, dia beda dari kebanyakan tukang pos yang pernahaku temui,  Saat itu aku masihmemanggilnya dengan sebutan pak pos. Nada protes pun serentak keluar “pak poskau bilang? Apa aku ini sudah kelihatan tua sekali, sampai-sampai kau memanggilku pak, macam mana kau ini tukang bakso yang beranak tujuh aja masih di panggilabang, abang tukang bakso...”  saat ituaku ketawa lepas saat mendengar dia menyanyi abang tukang bakso fersi dia.
  “lalu harus akupanggil apa kau?” tanyaku
  “kau panggil sajaaku Mr. Eh jangan uda saja, jangan juga. Ya sudah lah kau panggil saja aku mas,ya mas mahmud”  dari situ lah awalperkenalan ku dengan orang aneh, lucu, tapi seru itu terjalin.

Setelah pertemuanawal itu mas mahmud sering berkunjung kerumah, setidaknya satu minggu sekaliuntuk mengantar surat, surat tagihan bapak, promo produk-produk baru, surat-suratpemberitahuan lowongan pekerjaan, surat lowongan panggilan kerja, atau suratpenolakan kerja untukku. Ya Kurang lebih sudah 3 bulan aku lulus kuliah, danmenetap dirumah sambil menunggu pekerjaan yang mau berjodoh pada ku. akubersyukur sekali karna surat-surat itu aku di pertemukan dengan mas mahmud
  “asslamualaikum”salamnya, sambil mengetuk pintu. Kebiasaan wajib yang dilakukan mas mahmud saatmengantar surat, tak seperti tukang pos lainnya yang hanya mengandalkanteriakan. Mas mahmud sangat sopan dan santun.
  “iya mas, marimasuk” kata ku sambil mempersilahkan masuk,
  “ini surat kau,hemmm masih saja kau mengirimkan lamaran-lamaran itu? Kenapa kau tak meneruskanusaha bapak kau saja, kau ini kan seorang insinyur pertanian, sudah tepat kahberada disini membantu bapak kau, kau juga bisa membangun rumah tangga disinibersama suami dan anak-anakmu kelak” nasihat yang sudah berapa kali ia lontarkan,
  “menikah?” tanyaku 
  “ia menikah”tegasnya,
 “ tapi sama siapa?Aku belum punya angan apalagi calon, akan kah dia turun dari langit? Tidakmungkin kan??” tanyaku balik, diikuti nada ketawa darinya
 “Ah maslah itu,tenang saja bapak kau kan terkenal di kampung ini, pasti banyak kenalan. Ataukalau kau mau aku bisa carikan untukmu...... oh ya ranty, mohon maaf yasepertinya saya tidak bisa berlama-lama disini, ada urusan yang harus segerasaya selesaikan” ujarnya sedikit berburu-buru. Tanpa pamitan khusus dialangsung bergegas
   “lah enggak sholatdulu? Sebentar lagi udah masuk waktu dzhur?” kataku menahan, berharap dia maumendengarkan kataku
  “ah tidak nanti saya sholat disana saja, salam buat bapak ibuk” tolaknya sambilmenyalakan mesin motornya.
 Aneh sekali mas mahmud waktu itu, ya waktuterakhir kali dia mengantar surat kerumah lebih tepatnya 2 minggu yang lalu.
Tak sepertibiasanya, mas mahmud yang selalu menyempatkan singgah sebentar untuk menungguadzn dzuhur kini tidak lagi, raut muka nya yang tidak bisa ditebak dan tanpaekspresi.
  “ada apasebenarnya?” aku pun jadi bertanya-tanya waktu itu

Mas mahmud tukang posyang membuat aku gila, yang membuat aku terus memikirkannya, senyum-senyumsendiri ketika membayangkannya, dan selalu menyisipkan namanya dalam doaku. Akutak tahu rasa apa yang hinggap di dalam tubuh ku ini, rasa yang mengganggu kuakhir-akhir ini semenjak aku mengenalnya.
Tapi kini rasa ituberbeda entah menjadi apa rasanya tak seenak dahulu, setelah aku mengetahuijawaban atas pertanyaan ku dua minggu yang lalu. Ya jawaban itu aku dapat pagitadi saat aku bertemu dengan mas mahmud. Mas mahmud akan segera menikah, menikahdengan wanita itu, wanita yang solehah kelihatannya

“nak belum selesaikah kau melamun? Sudah magrib itu apa kau tak dengar? Sana ambil air wudlu,trus kita sholat jamaah di masjid” lagi-lagi suara ibu berhasil memecahkankonsentrasiku. Dan terpaksa saya harus mengakhiri lamunan ini. Entah aku bisabertemu dengannya lagi apa tidak yang pasti namanya pernah singgah dalam hatikudan menjadi kenangan yang bisa di ceritakan untuk anak cucu ku kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar