Sabtu, 04 April 2015

PAK POS Part 2

Melawan hati yangberkabut

Aku masih terdiamdi balik kaca rias kamar ku, kaca yang berukuran 4x5 meter ini seakan sesakoleh bayangan orang-orang itu. Bapak, ibu, mas mahmud dan sesok buram. Ternyatacerita ku tentang mas mahmud belum usai...

“hemmmm” aku membebaskan nafas sebentar yang lama tertahan oleh besanya rasa yang membebaniku.
Aku tak ingin mengingat apa yang telah terjadi pada ku akhir-akhir ini, tapi kenapa otak ini selalu ingin mengulas tanpa ada perintah, seolah ingin menginggatkan ku bahwa ini lah takdir yang harus ku terima.
Seminggu setelah pertemuan ku dengan mas mahmud di pasar itu ada undangan yang mampir kerumah, Aku punhanya membaca sekilas, yang jelas ada namanya tertera disana. Sudah ku duga pasti undangan itu akan datang pada waktu yang telah ditentukan.

Kami yang berbahagia~ Febriana istiqomah & mahmud budiawan ~

Menghadiri undangan adalah suatu kewajiban, tapi kalu menghadiri undangan yang satu ini menjadi suatu kesengsaraan bagi ku. maka dari itu aku menyiapkan hati, melapangkan dada dengan segala situasi yang akan terjadi.
Waktu itu aku datang bersama bapak dan ibu, dengan wajah sok riang ku berharap bapak tidak tau tentang perasaan yang selama ini aku pendam. sepasang pengantin memakai baju warna senada, tamu yang lalu lalang entah mencari apa, makanan yang berhamburan di setiap sudut ruangan, sedikit yang dapat ku ingat dari acara resepsi pernikahan itu hanya satu yang tak pernah aku lupakan dimana aku bertemu dengan seseorang yang mengantarkan ku pada kericuhan hari ini.

Kringg ... hand phone kuberbunyi tanda sms masuk, terlihat “pesan masuk dari bang rasyit” aku mengabaikan pesan itu.

bang rasyit adalah orang yang ku temui di acara pernikahan mas mahmud waktu itu, dimana pertemuan yang tak penah ku inginkan sama sekali.
saat itu ketika akudan keluarga sedang menyantap makanan yang disajikan, tiba-tiba kedua pengantin datang dengan dalih mau menjamu tamu.

“terimakasih sudah datang” sapa mas mahmud, yang terlihat berbahagia
“selamat nak, akhirnya kau menikah” balas ibu sok ramah, tanpa memperdulikan perasaan anaknya ini.
“senang sekali rasanya bisa lihat kau menikah. semoga saja bapak juga bisa segera menikahkan anak bapak ya” tambah bapak, diiringi candaan yang menyudutkan ku
“iya pak, amin”ujarnya. sambil memanggil seseorang dengan menggunakan isyarat, tak lama kemudian orang itu datang.
“emmmm, perkenalkan rasyit teman saya sekaligus sepupu istri saya” kata mas mahmud memperkenalkan orang itu, seorang yang sepertinya berusia sepantaran dengan mas mahmud, berbadan agak besar dan memiliki tinggi sebahu mas mahmud jangan di kata pendek karna tinggi mas mahmud saja hampir sama dengan pintu rumahku.

Dia tersenyum (tanda menyapa), dibarengi ritual perkenalan seperti biasanya.
“dia ini juga sedang cari pendamping. lulusan teknik sipil, dia juga sudah bekerja, soal agama tidak diragukan lagi insyaalloh bisa jadi imam yang baik, karna lulusan dari pondok al-islam bogor” cerita mas mahmud,
Perasaan aneh mulai muncul, sepetinya nasip buruk akan menimpa ku.
“wahh hebat sekali ya, semoga kelak saya mendapatkan menantu yang seperti itu!” kata bapak, sepertinya perasaan aneh ku terbukti dan aku belum mengeluarkan reaksi
“wah bagus lah pak, kemarin saya janji sama ranti kalu saya mau mencarikan calon buat dia, bagaimana kalau rasyit saja pak?” tanyanya sambil menggoda
 “kalau bapak sih setuju-setuju saja, sangatsetuju malah. Tinggal ranti yang menentukan” jawab bapak
Aku hanya tersenyum kecut, sepertinya akan ada skenariobesar yang akan saya jalani.
“lah bagaimanadenganmu nak rasyit apa kau mau dengan ranti, yang seperti itu?” tanya ibu seolah-olah aku ini orang yang terasingkan
Dia pun tak menjawab, hanya tersenyum tanpa maksud. Aku bisa menangkap senyum itu sepetinya dia mengiyakan tapi tidak juga, ah entah lah saya tidak bisa membaca pikiran orang aku kan bukan ki joko bodo.
“tenang bu. Rasyit sudah saya beritahu kalu ranti ini orangnya baik asyik juga, saya yakin ranti adalah pilihan yang tepat untuk dia” jawabnya.
“iya bu, mungkin kami perlu pengenalan dahulu, nanti cocok atau tidaknya biar kami yang menentukan” katanya membuka suara.
Setelah pertemuan itu, bang rasyit sering menghubungi ku tapi jarang sekali aku perdulikan sesekali aku membalasnya demi untuk menghargai.

Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat apalagi saat bang rasyit mau melamarku, seakan dunia ini tak pernah berpihak padaku ditambah persetujuan dari ibu bapak yang semakin menghancurkan perasaanku. aku selalu berusaha menolaknya tapi mulut ini terasa berat ketika logika dan hati masih saja berseteru suara pun tak berani menunjukkan kemerduannya.

Aku selalu berusaha mendamaikan logika dan hati supaya bisa bersatu, tapi tetap saja tambah jadi mereka seolah menyerangku dengan berbagai penawaran. Oh tuhan adakah obat penawar untuk ini? Aku berkali-kali meminta pertolongan tuhan, tiap malam aku sholat meminta petunjukNya tapi apa, aku tak bisa menangkap apa-apa.
“Rengg....” suara gemuruh di luar mulai terdengar, sepertinya rombongan bang rasyit sudah datang. Waktuku tak lama lagi aku akan segera mengambil keputusan besar dalam hidup ku, aku mengambil bingkai foto yang terpajang di dekat meja rias ku. Foto yang diambil 20 tahun silam saat usia ku 2 tahun bersama ibu dan bapak.

Bapak ibu usia mukini mulai senja, tubuhmu tak sekokoh dulu, warna rambutmu mulai memudar, tapiaku yakin rasa sayang mu tak akan pernah berubah dari dulu hingga aku seperti ini. Aku yakin orang tua manapun tak pernah mau menyengsarakan anaknya. Sepertihalnya dengan bapak dan ibu pasti menginginkan yang terbaik buat ku. Bapak ibu sangat mengingikan bang rasyit menjadi menantunya, menjadi suamiku, menjadi pendampingku hingga akhir kelak, menjadi ayah dari anak-anak ku, dan menjadi kakek dari cucu-cucuku. Bukan kah ridho alloh itu bersama ridho orang tua? Selama keridhoan orang tua itu masih sejalan dengan peintah Alloh dan RosulNya.

“hemmmmm” aku kembali menggela nafas panjang. Tapi bagaimana dengan perasaan ini, taksedikitpun aku mencintai bang rasyit mana bisa kita hidup dengan orang yang sama sekali tak inginkan, tapi kata ibu cinta itu bisa di bangun setelah menikah sama hal nya ibu dan bapak dulu ketika di jodohkan sama kakek, malah ibu dan bapak sama sekali belum pernah bertatap muka sebelumnya.

Aggghhhhhhhhhhhserasa perasaan ini sangat mengganggu ku
“nak, tamunya sudah menunggu” teriak ibu dari balik pintu, aku tersadar kurang lebih setengah jam yang lalu rombongan bang rasyit tiba. Dan Aku harus segera bergabung dengan keluargaku.
“ bagaimana nak sudah siap?” tanya ibu, sambil membuka pintu.
Aku mengganggukkan kepala, kami menuju ruang tamu yang telah sesak dengan kerumunan orang. Terlihat bang rasyit didampingi ayahnya, tak ketinggalan mas mahmud dan mb anayang turut hadir mengantar bang rasyit.

Hari ini adalah deadline keputusan saya atas lamaran bang rasyid minggu lalu, bang rasyit telah berbaik hati memberi waktu untuk ku berpikir panjang tentang hal ini, karna menyangkut hidup kami kedepan, semua orang menginginkan menikah satu kali sama hal nya dengan diriku, maka dari itu aku tidak bisa memutuskan ini sesaat.
Acara telah dimulai, serangkaian prosesi sambut menyambut telah di lewati satu persatu. Kini giliran aku yang harus memberikan jawaban atas permintaan bang rasyit, serasa jantung ini berdebar lebih cepat dari biasanya. “dek iranty mariana bersedia kah dek iranty menjadi istri dan membangun rumah tangga bersama saya, menjadi ibu bagi anak-anak saya kelak?” tawarnya
Aku memandang orang-orang sekitar, sepertinya tidak ada yang mendukung ku untuk berkata tidak, wajah mereka terlihat tegang menunggu apa yang keluar dari mulut ku, tapi mulit ini seperti tertahan untuk mengungkapkan sesuatu.

Hemmmmmm aku menarik nafas panjang Bismillah.... doa ku dalam hati
“iii..... iya” jawabku, bersamaan dengan jatuhnya permata dari mata ku.
“alhamdulillah “seruan dari orang-orang yang mengikuti rangkaian acara ini.
Menikah itu bukanhanya jodoh yang di pilih tapi juga kesepakatan, ya kesepakatan antara kamu danaku. Kesepakatan kamu mau menikahi aku dan aku mau kamu nikahi. Maka dari itu aku memantapkan diriku dengan hal yang lebih besar dengan resiko yang tidak kecil tapi memiliki hikmah yang luar biasa.
Entah apa yang bisa merubah pikiran ku tentang ini semua, aku tak mau mengecewakan orang-orang yang menyayangiku. Dan aku berharap dengan iringan doa dari mereka menjadikan hidupku lebih baik. Bismillah aku kan menjalani takdir ini bersama mu ya bersama Rasyit abdulloh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar