Melawan hati yangberkabut
Aku masih terdiamdi balik
kaca rias kamar ku, kaca yang berukuran 4x5 meter ini seakan sesakoleh
bayangan orang-orang itu. Bapak, ibu, mas mahmud dan sesok buram.
Ternyatacerita ku tentang mas mahmud belum usai...
“hemmmm” aku membebaskan nafas sebentar yang lama tertahan oleh besanya rasa yang membebaniku.
Aku
tak ingin mengingat apa yang telah terjadi pada ku akhir-akhir ini, tapi
kenapa otak ini selalu ingin mengulas tanpa ada perintah, seolah ingin
menginggatkan ku bahwa ini lah takdir yang harus ku terima.
Seminggu
setelah pertemuan ku dengan mas mahmud di pasar itu ada undangan yang
mampir kerumah, Aku punhanya membaca sekilas, yang jelas ada namanya
tertera disana. Sudah ku duga pasti undangan itu akan datang pada waktu
yang telah ditentukan.
Kami yang berbahagia~ Febriana istiqomah & mahmud budiawan ~
Menghadiri
undangan adalah suatu kewajiban, tapi kalu menghadiri undangan yang satu
ini menjadi suatu kesengsaraan bagi ku. maka dari itu aku menyiapkan
hati, melapangkan dada dengan segala situasi yang akan terjadi.
Waktu
itu aku datang bersama bapak dan ibu, dengan wajah sok riang ku berharap
bapak tidak tau tentang perasaan yang selama ini aku pendam. sepasang
pengantin memakai baju warna senada, tamu yang lalu lalang entah mencari
apa, makanan yang berhamburan di setiap sudut ruangan, sedikit yang dapat
ku ingat dari acara resepsi pernikahan itu hanya satu yang tak pernah
aku lupakan dimana aku bertemu dengan seseorang yang mengantarkan ku pada
kericuhan hari ini.
Kringg ... hand phone kuberbunyi tanda sms masuk, terlihat “pesan masuk dari bang rasyit” aku mengabaikan pesan itu.
bang
rasyit adalah orang yang ku temui di acara pernikahan mas mahmud waktu
itu, dimana pertemuan yang tak penah ku inginkan sama sekali.
saat
itu ketika akudan keluarga sedang menyantap makanan yang disajikan,
tiba-tiba kedua pengantin datang dengan dalih mau menjamu tamu.
“terimakasih sudah datang” sapa mas mahmud, yang terlihat berbahagia
“selamat nak, akhirnya kau menikah” balas ibu sok ramah, tanpa memperdulikan perasaan anaknya ini.
“senang
sekali rasanya bisa lihat kau menikah. semoga saja bapak juga bisa
segera menikahkan anak bapak ya” tambah bapak, diiringi candaan yang
menyudutkan ku
“iya pak, amin”ujarnya. sambil memanggil seseorang dengan menggunakan isyarat, tak lama kemudian orang itu datang.
“emmmm,
perkenalkan rasyit teman saya sekaligus sepupu istri saya” kata mas
mahmud memperkenalkan orang itu, seorang yang sepertinya berusia
sepantaran dengan mas mahmud, berbadan agak besar dan memiliki tinggi
sebahu mas mahmud jangan di kata pendek karna tinggi mas mahmud saja
hampir sama dengan pintu rumahku.
Dia tersenyum (tanda menyapa), dibarengi ritual perkenalan seperti biasanya.
“dia
ini juga sedang cari pendamping. lulusan teknik sipil, dia juga sudah
bekerja, soal agama tidak diragukan lagi insyaalloh bisa jadi imam yang
baik, karna lulusan dari pondok al-islam bogor” cerita mas mahmud,
Perasaan aneh mulai muncul, sepetinya nasip buruk akan menimpa ku.
“wahh
hebat sekali ya, semoga kelak saya mendapatkan menantu yang seperti
itu!” kata bapak, sepertinya perasaan aneh ku terbukti dan aku belum
mengeluarkan reaksi
“wah bagus lah pak, kemarin saya janji sama
ranti kalu saya mau mencarikan calon buat dia, bagaimana kalau rasyit
saja pak?” tanyanya sambil menggoda
“kalau bapak sih setuju-setuju saja, sangatsetuju malah. Tinggal ranti yang menentukan” jawab bapak
Aku hanya tersenyum kecut, sepertinya akan ada skenariobesar yang akan saya jalani.
“lah
bagaimanadenganmu nak rasyit apa kau mau dengan ranti, yang seperti
itu?” tanya ibu seolah-olah aku ini orang yang terasingkan
Dia pun
tak menjawab, hanya tersenyum tanpa maksud. Aku bisa menangkap senyum itu
sepetinya dia mengiyakan tapi tidak juga, ah entah lah saya tidak bisa
membaca pikiran orang aku kan bukan ki joko bodo.
“tenang bu.
Rasyit sudah saya beritahu kalu ranti ini orangnya baik asyik juga, saya
yakin ranti adalah pilihan yang tepat untuk dia” jawabnya.
“iya bu, mungkin kami perlu pengenalan dahulu, nanti cocok atau tidaknya biar kami yang menentukan” katanya membuka suara.
Setelah
pertemuan itu, bang rasyit sering menghubungi ku tapi jarang sekali aku
perdulikan sesekali aku membalasnya demi untuk menghargai.
Aku tak
tahu apa yang harus aku perbuat apalagi saat bang rasyit mau melamarku,
seakan dunia ini tak pernah berpihak padaku ditambah persetujuan dari ibu
bapak yang semakin menghancurkan perasaanku. aku selalu berusaha
menolaknya tapi mulut ini terasa berat ketika logika dan hati masih saja
berseteru suara pun tak berani menunjukkan kemerduannya.
Aku selalu
berusaha mendamaikan logika dan hati supaya bisa bersatu, tapi tetap
saja tambah jadi mereka seolah menyerangku dengan berbagai penawaran. Oh
tuhan adakah obat penawar untuk ini? Aku berkali-kali meminta pertolongan
tuhan, tiap malam aku sholat meminta petunjukNya tapi apa, aku tak bisa
menangkap apa-apa.
“Rengg....” suara gemuruh di luar mulai
terdengar, sepertinya rombongan bang rasyit sudah datang. Waktuku tak
lama lagi aku akan segera mengambil keputusan besar dalam hidup ku, aku
mengambil bingkai foto yang terpajang di dekat meja rias ku. Foto
yang diambil 20 tahun silam saat usia ku 2 tahun bersama ibu dan bapak.
Bapak
ibu usia mukini mulai senja, tubuhmu tak sekokoh dulu, warna rambutmu
mulai memudar, tapiaku yakin rasa sayang mu tak akan pernah berubah dari
dulu hingga aku seperti ini. Aku yakin orang tua manapun tak pernah mau
menyengsarakan anaknya. Sepertihalnya dengan bapak dan ibu pasti
menginginkan yang terbaik buat ku. Bapak ibu sangat mengingikan bang
rasyit menjadi menantunya, menjadi suamiku, menjadi pendampingku hingga
akhir kelak, menjadi ayah dari anak-anak ku, dan menjadi kakek dari
cucu-cucuku. Bukan kah ridho alloh itu bersama ridho orang tua?
Selama keridhoan orang tua itu masih sejalan dengan peintah Alloh dan
RosulNya.
“hemmmmm” aku kembali menggela nafas panjang. Tapi
bagaimana dengan perasaan ini, taksedikitpun aku mencintai bang rasyit
mana bisa kita hidup dengan orang yang sama sekali tak inginkan, tapi
kata ibu cinta itu bisa di bangun setelah menikah sama hal nya ibu dan
bapak dulu ketika di jodohkan sama kakek, malah ibu dan bapak sama sekali
belum pernah bertatap muka sebelumnya.
Aggghhhhhhhhhhhserasa perasaan ini sangat mengganggu ku
“nak,
tamunya sudah menunggu” teriak ibu dari balik pintu, aku tersadar kurang
lebih setengah jam yang lalu rombongan bang rasyit tiba. Dan Aku harus
segera bergabung dengan keluargaku.
“ bagaimana nak sudah siap?” tanya ibu, sambil membuka pintu.
Aku
mengganggukkan kepala, kami menuju ruang tamu yang telah sesak dengan
kerumunan orang. Terlihat bang rasyit didampingi ayahnya, tak ketinggalan
mas mahmud dan mb anayang turut hadir mengantar bang rasyit.
Hari
ini adalah deadline keputusan saya atas lamaran bang rasyid minggu
lalu, bang rasyit telah berbaik hati memberi waktu untuk ku berpikir
panjang tentang hal ini, karna menyangkut hidup kami kedepan, semua orang
menginginkan menikah satu kali sama hal nya dengan diriku, maka dari itu
aku tidak bisa memutuskan ini sesaat.
Acara telah dimulai,
serangkaian prosesi sambut menyambut telah di lewati satu persatu. Kini
giliran aku yang harus memberikan jawaban atas permintaan bang
rasyit, serasa jantung ini berdebar lebih cepat dari biasanya. “dek
iranty mariana bersedia kah dek iranty menjadi istri dan membangun
rumah tangga bersama saya, menjadi ibu bagi anak-anak saya kelak?”
tawarnya
Aku memandang orang-orang sekitar, sepertinya tidak ada
yang mendukung ku untuk berkata tidak, wajah mereka terlihat tegang
menunggu apa yang keluar dari mulut ku, tapi mulit ini seperti tertahan
untuk mengungkapkan sesuatu.
Hemmmmmm aku menarik nafas panjang Bismillah.... doa ku dalam hati
“iii..... iya” jawabku, bersamaan dengan jatuhnya permata dari mata ku.
“alhamdulillah “seruan dari orang-orang yang mengikuti rangkaian acara ini.
Menikah
itu bukanhanya jodoh yang di pilih tapi juga kesepakatan, ya
kesepakatan antara kamu danaku. Kesepakatan kamu mau menikahi aku dan
aku mau kamu nikahi. Maka dari itu aku memantapkan diriku dengan hal yang
lebih besar dengan resiko yang tidak kecil tapi memiliki hikmah yang
luar biasa.
Entah apa yang bisa merubah pikiran ku tentang
ini semua, aku tak mau mengecewakan orang-orang yang menyayangiku. Dan
aku berharap dengan iringan doa dari mereka menjadikan hidupku lebih baik. Bismillah aku kan menjalani takdir ini bersama mu ya bersama Rasyit abdulloh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar