Seperti lelecon kisah yang kita
bangun tanpa ada sedikit keraguan, tanpa ada sedikit pemikiran lantas suatu
saat nanti kita akan menertawakan kisah kita ini.
Kisah
yang lucu.
Menyeka
ujung senja bersama hujan yang mulai mereda.
Aku dan kamu duduk berdua di atas batu besar di
tengah padang rumput yang mulai menghijau karna guyuran air hujan. Akhir-akhir
ini hujan mulai turun terlambat beberapa bulan dari musim yang seharusnya.
Aku panik saat melihat hujan yang tiba-tiba
menyerang kita, “hujan,, hujan” kataku di atas kebingunganku sendiri. kau malah
tertawa, katamu : “duduklah saja hujan tidak akan melukai kita”
Begitu bodohnya aku, kenapa aku takut sekali dengan
hujan. “ini hanya gerimis, coba pecamkan mata kamu lalu hirup bau tanah yang
khas kiriman hujan.” Perintahmu. Dan aku melakukan apa yang kamu bilang.
Mulailah ku katupkan kedua mataku, Menarik udara
dalam-dalam membiarkannya masuk ke dalam lubang hidungku. Aroma tubuhmu menghilang
bersama hilangnya tetesan yang mengalir dari pelipisku—Hujannya merada.
Tak ada lagi hujan begitu juga dirimu, tak ada
disini. Aku sendiri menatap senja yang mulai bersembunyi. hahahhahha tawaku lepas di ikuti lepasnya setetes air dari kelopak
mataku.
Konyol sekali hidup ini, masih saja mengingat-ingat
hal yang sudah berlalu jauh meninggalkan kita. aku mulai mendongokkan kepalaku
berharap tetesan lain tak mengikuti.
“kau akan
baik-baik saja, meski tanpa diriku” katamu terakhir kali kita berjumpa disini. Okay
hujan, saatnya aku berdiri merapikan tubuhku yang mulai membungkuk, melebarkan
senyumku yang mulai pudar. Mengembalikan leherku yang mulai pegal karna terlalu
lama menoleh ke belakang mencari dirimu yang tak mungkin kembali.
Aku akan mencoba memaknai kehilangan, juga arti
memaafkan.
“Kau tahu tak ada saat yang tepat untuk melupakan
masa lalu. Hanya ada waktu yang tepat untuk memaafkan, menerima sesuatu yang
telah menjadi bagian hidupmu” kata An. tokoh dalam Walking After You

Tidak ada komentar:
Posting Komentar